De
Huis
Oleh:
Jikin Favorit
De
Huis. Seperti itu bapaku memanggil rumah yang kami tinggali. Rumah bata yang
berdiri kokoh selama kurang lebih seabad. Didirikan di awal abad 20. Diratakan
untuk dijadikan ruko pada tahun 2006. Jelas rumah itu mengalami berbagai jaman.
Jaman Perang Dunia I, jaman malaise, jaman Perang Dunia II, jaman orde lama,
orde baru, reformasi, dan jaman SBY. Dalam seratusan tahun perjalanan hidup de
Huis, keluargaku yang terlama tinggal di dalamnya. Empatpuluh tahun, dari 1966
sampai robohnya di 2006.
Jangan
ditanya berapa banyak riuh rendah yang telah disaksikannya. Berapa banyak
pertengkaran laki-bini, berapa banyak air mata tertumpah, dan berapa banyak
lovemaking yang pernah berlangsung di bawah atapnya. Aku sendiri hanyalah salah
satu produknya. Dan aku sendiri tentu saja pernah make love di sana. Bahkan,
ada beberapa sahabat juga pernah.
De
Huis dibangun oleh SDS (Serajoe Daal Stoomtram Matschapij; Perusahaan Kereta
Api Lembah Serayu) untuk rumah dinas salah satu petingginya. De Huis punya
kembaran di jalan Merdeka, dan hanya itu saja saudaranya. Hanya dua yang
dibangun dari gambar rancangan yang sama. Salah satu hal yang menarik
perhatianku dari de Huis, sejak mampu mengingat adalah lantai rumah yang berada
tinggi. Sekitar 80cm dari level permukaan tanah. Kembarannya tidak setinggi
itu.
Ketika
kutanyakan pada bapa kenapa bisa setinggi itu, jawaban beliau adalah untuk
menghindari air dan binatang melata. Jawaban yang bisa diterima, tetapi masih
terasa ada satu keganjilan di kepalaku. Ketika itu aku membayangkan, bahwa di
dalam badan pondasi de Huis adalah sebuah ruang, atau lorong rahasia, atau
mungkin penyimpanan harta karun. Ini adalah sebuah angan2 hasil
menghubung-hubungkan. Karena begini, ketika aku masih balita, dalam ingatanku
waktu itu, aku bermain-main dengan mas di dalam salah satu kamar. Dia
menunjukkan sesuatu.
Di
bagian bawah dinding, ada lis dari tegel. Tidak full tegel namun separuh. Yang
ditempel berdiri dan menyusur sepanjang pertemuan dinding dengan lantai.
Mungkin guna membujuk dan menarik perhatianku supaya tidak pecicilan dia
memanggilku mendekat. Dia tengkurap tapi kepalanya tegak menghadapi sebuah
tegel lis bawah dinding. Dia mengisyaratkan supaya aku memperhatikan. Dengan
kedua tangannya mas menggeser satu tegel lis di hadapannya ke atas: melepasnya.
Lis jadi ompong di bagian tegel yang dilepas. Tapi bukan tembok saja yang
kulihat di bagian yang ompong itu. Ada tuas dengan ceruk gesernya, semua
logam,. Kulihat sambil ketawa2 mas memainkan tuas itu, digeser-geser naik
turun. Aku juga ikut memainkannya.
Masku
tidak memperhatikan tapi aku mendengar. Suara gledheg-gledheg di lantai
menempel tembok di sisi yang menyiku dengan tembok yang lisnya ompong. Aku
hampiri sumber suara itu. Aku lihat delapan susunan tegel, dua kali barisan
empat, bergetar. Bergetar sesuai dengan gerakan mas-ku memainkan tuas. Karena
kulihat barisan tegel itu seperti hendak turun namun kesukaran, maka secara
naluriah aku melompat dan mendarat tepat di barisan 8 tegel yang sedang
berderak itu. Breg, barisan tegel itu mblesek kurang lebih 2 cm. Mas ku sendiri
kaget, sejak aku anjlok di sana, tuas di setengah jalan geser jadi berat sekali
untuk digeser-geser. Segera dia menghampiriku dan makin kaget waktu melihat ada
beberapa tegel yang mblesek.
Jelas
masku takut. Takut kena marah gara2 lantai jadi mblesek begitu. Dia tertegun
melihat sementara aku berdiri di atasnya. Lalu tiba2 logika sederhananya
bekerja. Aku diajaknya pergi, beranjak dari tegel mblesek tersebut. Kemudian
dia memainkan lagi tuasnya. Mula-mula berat baik ke bawah maupun ke atas, namun
akhirnya bisa juga di geser kembali ke atas, mentok di puncak ceruk gesernya.
Sesudahnya, kami hampiri lantai mblesek tadi, yang sudah tidak mblesek lagi.
Sudah kembali rata dengan sebelah2nya; seperti semula. Buru2 masku memasangkan
kembali tegel lis ke tempatnya.menutupi tuas geser tadi dan membawaku pergi
dari kamar itu. Mulai detik itu, rasanya, dengan semaksimal mungkin dia
membujuk, mengajak bermain sepuas-puasnya, membuatkan aneka mainan, dengan
tujuan aku melupakan insiden tuas geser di balik tegel lis dan tegel mblesek.
Upaya
itu dalam beberapa segi berhasil. Misalnya, aku tidak ingat lagi dimana
tepatnya tegel lis yang bisa dilepas itu. Mengenai insiden aku ingat betul.
Tetapi ketika aku berusaha eksplorasi sendiri di tempat yang kusesuaikan dengan
memori, tegel-tegel lis itu tidak ada yang bisa dilepas dengan menggeserkannya
ke atas. Dengan demikian aku menduga aku tidak mencari di tempat yang tepat.
Sedang masku, apabila kurecoki dengan pertanyaan mengenai tegel lis yang bisa
dilepas, dia berlagak pilon dan memandangku seolah aku ini manusia planet.
Di
titik dimana Toko Mitra berada dahulu adalah garasi ambulan angkatan darat. Di
sana disimpan juga peti2 mati yang sudah berhias guna dipakai mengantar-ngantar
jenazah keluarga angkatan darat. Di depan garasi kematian tersebut ada kaki2
tukang tambal ban sepeda. Di bawah naungan beberapa pohon kamboja yang rindang.
Aku kecil senang main di situ. Teduh, sambil memperhatikan mbah yang sedang
menambal. Dan kalau dia tidak sedang
menambal maka kami mengobrol.
Dalam
satu obrolan aku bertanya pada mbah tambal tentang apakah mungkin ada ruang
bawah tanah di rumah yang kutempati. Jawab dia dengan pasti, tidak tahu. Tapi
dia bilang dia pernah mendengar jika konon katanya ada lorong bawah tanah yang
menghubungkan de Huis dengan kantor inspeksi PNKA (sekarang kantor Daop
Perumka) dan stasiun SDS (stasiun timur; sekarang tiada lagi. Katanya lorong
itu lewat tepat di bawah kakinya saat itu, sambil dia menghentakkan kaki pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar