Kamis, 21 Maret 2013

Tulisan Bangun Tidur 002



De Huis
Oleh: Jikin Favorit

De Huis. Seperti itu bapaku memanggil rumah yang kami tinggali. Rumah bata yang berdiri kokoh selama kurang lebih seabad. Didirikan di awal abad 20. Diratakan untuk dijadikan ruko pada tahun 2006. Jelas rumah itu mengalami berbagai jaman. Jaman Perang Dunia I, jaman malaise, jaman Perang Dunia II, jaman orde lama, orde baru, reformasi, dan jaman SBY. Dalam seratusan tahun perjalanan hidup de Huis, keluargaku yang terlama tinggal di dalamnya. Empatpuluh tahun, dari 1966 sampai robohnya di 2006.

Jangan ditanya berapa banyak riuh rendah yang telah disaksikannya. Berapa banyak pertengkaran laki-bini, berapa banyak air mata tertumpah, dan berapa banyak lovemaking yang pernah berlangsung di bawah atapnya. Aku sendiri hanyalah salah satu produknya. Dan aku sendiri tentu saja pernah make love di sana. Bahkan, ada beberapa sahabat juga pernah.

De Huis dibangun oleh SDS (Serajoe Daal Stoomtram Matschapij; Perusahaan Kereta Api Lembah Serayu) untuk rumah dinas salah satu petingginya. De Huis punya kembaran di jalan Merdeka, dan hanya itu saja saudaranya. Hanya dua yang dibangun dari gambar rancangan yang sama. Salah satu hal yang menarik perhatianku dari de Huis, sejak mampu mengingat adalah lantai rumah yang berada tinggi. Sekitar 80cm dari level permukaan tanah. Kembarannya tidak setinggi itu.

Ketika kutanyakan pada bapa kenapa bisa setinggi itu, jawaban beliau adalah untuk menghindari air dan binatang melata. Jawaban yang bisa diterima, tetapi masih terasa ada satu keganjilan di kepalaku. Ketika itu aku membayangkan, bahwa di dalam badan pondasi de Huis adalah sebuah ruang, atau lorong rahasia, atau mungkin penyimpanan harta karun. Ini adalah sebuah angan2 hasil menghubung-hubungkan. Karena begini, ketika aku masih balita, dalam ingatanku waktu itu, aku bermain-main dengan mas di dalam salah satu kamar. Dia menunjukkan sesuatu.

Di bagian bawah dinding, ada lis dari tegel. Tidak full tegel namun separuh. Yang ditempel berdiri dan menyusur sepanjang pertemuan dinding dengan lantai. Mungkin guna membujuk dan menarik perhatianku supaya tidak pecicilan dia memanggilku mendekat. Dia tengkurap tapi kepalanya tegak menghadapi sebuah tegel lis bawah dinding. Dia mengisyaratkan supaya aku memperhatikan. Dengan kedua tangannya mas menggeser satu tegel lis di hadapannya ke atas: melepasnya. Lis jadi ompong di bagian tegel yang dilepas. Tapi bukan tembok saja yang kulihat di bagian yang ompong itu. Ada tuas dengan ceruk gesernya, semua logam,. Kulihat sambil ketawa2 mas memainkan tuas itu, digeser-geser naik turun. Aku juga ikut memainkannya.

Masku tidak memperhatikan tapi aku mendengar. Suara gledheg-gledheg di lantai menempel tembok di sisi yang menyiku dengan tembok yang lisnya ompong. Aku hampiri sumber suara itu. Aku lihat delapan susunan tegel, dua kali barisan empat, bergetar. Bergetar sesuai dengan gerakan mas-ku memainkan tuas. Karena kulihat barisan tegel itu seperti hendak turun namun kesukaran, maka secara naluriah aku melompat dan mendarat tepat di barisan 8 tegel yang sedang berderak itu. Breg, barisan tegel itu mblesek kurang lebih 2 cm. Mas ku sendiri kaget, sejak aku anjlok di sana, tuas di setengah jalan geser jadi berat sekali untuk digeser-geser. Segera dia menghampiriku dan makin kaget waktu melihat ada beberapa tegel yang mblesek.

Jelas masku takut. Takut kena marah gara2 lantai jadi mblesek begitu. Dia tertegun melihat sementara aku berdiri di atasnya. Lalu tiba2 logika sederhananya bekerja. Aku diajaknya pergi, beranjak dari tegel mblesek tersebut. Kemudian dia memainkan lagi tuasnya. Mula-mula berat baik ke bawah maupun ke atas, namun akhirnya bisa juga di geser kembali ke atas, mentok di puncak ceruk gesernya. Sesudahnya, kami hampiri lantai mblesek tadi, yang sudah tidak mblesek lagi. Sudah kembali rata dengan sebelah2nya; seperti semula. Buru2 masku memasangkan kembali tegel lis ke tempatnya.menutupi tuas geser tadi dan membawaku pergi dari kamar itu. Mulai detik itu, rasanya, dengan semaksimal mungkin dia membujuk, mengajak bermain sepuas-puasnya, membuatkan aneka mainan, dengan tujuan aku melupakan insiden tuas geser di balik tegel lis dan tegel mblesek.

Upaya itu dalam beberapa segi berhasil. Misalnya, aku tidak ingat lagi dimana tepatnya tegel lis yang bisa dilepas itu. Mengenai insiden aku ingat betul. Tetapi ketika aku berusaha eksplorasi sendiri di tempat yang kusesuaikan dengan memori, tegel-tegel lis itu tidak ada yang bisa dilepas dengan menggeserkannya ke atas. Dengan demikian aku menduga aku tidak mencari di tempat yang tepat. Sedang masku, apabila kurecoki dengan pertanyaan mengenai tegel lis yang bisa dilepas, dia berlagak pilon dan memandangku seolah aku ini manusia planet.

Di titik dimana Toko Mitra berada dahulu adalah garasi ambulan angkatan darat. Di sana disimpan juga peti2 mati yang sudah berhias guna dipakai mengantar-ngantar jenazah keluarga angkatan darat. Di depan garasi kematian tersebut ada kaki2 tukang tambal ban sepeda. Di bawah naungan beberapa pohon kamboja yang rindang. Aku kecil senang main di situ. Teduh, sambil memperhatikan mbah yang sedang menambal. Dan kalau dia tidak sedang  menambal maka kami mengobrol.

Dalam satu obrolan aku bertanya pada mbah tambal tentang apakah mungkin ada ruang bawah tanah di rumah yang kutempati. Jawab dia dengan pasti, tidak tahu. Tapi dia bilang dia pernah mendengar jika konon katanya ada lorong bawah tanah yang menghubungkan de Huis dengan kantor inspeksi PNKA (sekarang kantor Daop Perumka) dan stasiun SDS (stasiun timur; sekarang tiada lagi. Katanya lorong itu lewat tepat di bawah kakinya saat itu, sambil dia menghentakkan kaki pelan.

Sekarang kupikir, yah, mungkin saja. De Huis adalah produk orang Eropah dengan semua paranoia mereka. Mereka tinggal di tanah yang jauh dari negerinya. Di tanah milik orang2 yang terus-menerus mereka perdaya. Sudah barang tentu ini menimbulkan banyak kekhawatiran. Bagaimana jika yang terperdaya itu menjadi sadar, dan bergolak sehingga akhirnya mereka harus terusir dengan paksa. Dalam keadaan yang membahayakan. Tengah malam de Huis dikepung warga Cikebrok dan Tipar yang mengacung-acungkan obor dalam amarah. Yang sewaktu-waktu obor2 itu bisa dilontarkan ke dalam de Huis dan membakarnya. Maka orang Eropah, keluarga petinggi SDS penghuni de Huis, boleh merasa lebih tenang, karena ada pintu rahasia menuju lorong rahasia yang akan membawa mereka ke stasiun. Dimana di sana sudah menanti rangkaian kereta api yang akan membawa mereka ke Tjilatjap dan kemudian akhirnya setelah dua bulan kampul-kampul di lautan, mereka bisa menjejakan kaki kembali di tanah embah moyang Eropah, di Rotterdam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar