Jumat, 17 Oktober 2014

PERSAHABATAN BAGAI KEPOMPONG?

Persahabatan bagai kepompong? Aku tidak setuju. Metafor tersebut aneh dan yang menggagas besar kemungkinan belum pernah mengalami perjalanan persahabatan sejati dimana berbagai hal, berbagai suka-duka dialami bersama dan kerap kali untuk mereka yang persahabatannya dahsyat berujung.membuahkan karya luarbiasa.

Daripada itu aku memilih frasa aktual Persahabatan Bagai Lennon/McCartney. Frasa ini kupakai guna mengekspresikan apresiasiku kepada sebuah mega persahabatan.

Sudah, aku tidak perlu seperti guru PAUD menerangkan hal ihwal Lennon/McCartney. Tetapi saranku putarlah kembali beberapa track dari album Rubber Soul. Utamanya "In My Life" dan "Wait". Resapi lirik dan melodinya. Di sana Anda akan mengerti makna sejati mengenai apa itu seiya sekata seiring setujuan, tanpa agenda tersembunyi.

ORANG MISKIN/SUSAH TIDAK BOLEH PENAKUT

Apa yang mau aku sampaikan pagi ini adalah orang susah/miskin tidak boleh penakut atawa penjijik. Sebab besar kemungkinan, situasi yang menakutkan atau menjijikkan akan menjadi peluang untuk bangkit dari kemiskinan.

Conto: ketika satu rumah/tempat yang kondang angker memerlukan penjaga malem, dan hampir tiada yang mau mengisi pekerjaan tersebut, hai si miskin datangilah. Itu peluangmu untuk bilang, "Wani piro?"

Conto lain: ketika ada seorang nenek peyot ganjen yang tidak berhenti mengomel dan sebentar-sebentar meludah di sembarang tempat dan ia memerlukan asisten untuk mendampingi ke sana ke mari, datangilah. Katakan, "Wantun pinten?".

Kamis, 16 Oktober 2014

KENAPA THE BEATLES TIDAK PERNAH MANGGUNG DI INDONESIA

The Beatles adalah ikon sejarah budaya modern dengan publikasi rekaman musik mereka yang mengguncang dunia di sepanjang dekade 1960an.

Semua orang yang menyukai peradaban seni modern akan tahu siapakah The Beatles itu.

Namun sayang sekali. Dari ratusan ribu kilometer mereka tempuh dalam rangkau menampilkan musiknya, tak sedetikpun waktu mereka luangkan untuk tampil di Indonesia. Kasihan deh loe, Indonesia.

Kenapa begitu? Jawabannya jelas. Pertama, Bung Karno tidak menyukai budaya rock n'roll dan mengatainya sebagai musik "ngak-ngik-ngok". Kedua, saat puncak ketenaran The Beatles dan mereka tour kemana-mana, Indonesia sedang hati panas dengan Malaysia (Ganjang Malaysia). Ricuh dengan Malaysia sama saja ricuh dengan Inggris, karena Malaysia adalah benar-benar rumpun yang sudah total bersedia bernaung di ketek Inggris. Dari itu sudah barang tentu demi alasan keamanan, tak akan ada satu lubang kesempatanpun untuk menghadirkan The Beatles di Indonesia.

Nah, ketika jaman Orde Baru tiba, Bung Karno sudah digulingkan, serta rumpun kita sudah cipika-cipiki dengan Malaysia, The Beatles sudah memutuskan berhenti melakukan tour. Mereka tetap berkarya membuat album rekaman dan karya-karya lain baik secara grup maupun perseorangan.

Senin, 06 Oktober 2014

Travis Walton, Digondol Wewe

Travis Walton

Mata pembicaraan dengan tema "digondol wéwé" atau dalam bahasa Banyumasannya "degawa kélong" selalu menarik bagiku. Ini adalah kasus. Kasus yang mana satu individu, bisa kanak-kanak atau orang dewasa, lenyap secara misterius. Sering orang Jawa menimpakan kejadian misterius adalah akibat ulah hantu. Dan manusia lenyap misterius adalah karena ia digondol hantu wéwé.

99% kisah digondol wéwé yang kudengar/kubaca, yang terjadi di negeri ini adalah kisah konon katanya. Tidak ada bukti-bukti valid yang terdokumentasi, apalagi saksi. Semua terserah imajinasi penutur kisah. Kisah dengan benang merah seseorang dibawa hantu. Ada yang kembali ada yang tidak. Biasanya yang kembali menderita sakit ingatan. Lalu ketika ingatannya pulih, ia mampu menceritakan pengalamannya selama disekap hantu. Diberi makan mie, padahal sebenarnya cacing (kata dukun). Diberi bubur, padahal lumpur. Tak jarang kisahnya adalah bahwa korban dijadikan budak seks si hantu selama dalam penyekapan. Mungkin dengan bumbu, hantunya molek sebelum bersetubuh dan berubah ujud aslinya yang menakutkan serta menjijikkan ketika kelar. Benar tidaknya semua itu tak ada yang bisa memastikan. Termasuk yang bertutur.

Di Arizona, 5 November 1975, Travis Walton 22 tahun saat itu, lenyap secara misterius. Beberapa jam sebelum hilang, 5 temannya menyaksikan Walton terjengkang terlentang dihantam kekuatan tak berujud yang datangnya dari bola bercahaya kemana Walton sedang terpesona mengagumi. Kelima temannya kabur ketakutan. Dan saat mereka kembali ke lokasi dimana Walton rubuh untuk menolong, Walton sudah raib bak ditelan bumi.

Seketika warga gempar atas hilangnya Travis Walton. Pencarian besar-besaran dilakukan dan hasilnya nihil. Kasus ini jadi pusat perhatian. Berbagai asumsi dilontarkan. Termasuk mencurigai kelima kawan Walton bahwa mereka berkomplot membunuh Walton dan menyembunyikan mayatnya. Untuk kecurigaan ini lima pemuda itu menjalani tes poligraf.

Di hari kelima pencarian Travis Walton, sama misteriusnya dengan ketika hilang, Walton muncul lagi di satu tempat beberapa puluh kilometer jauhnya dari tempat dia hilang. Dia dalam keadaan telanjang bulat, sangat depresi, dan fisik yang sangat lemah.

Setelah pelan-pelan kondisinya pulih, Walton bisa menceritakan bagimana dia disekap dan sampai akhirnya dia meloloskan diri lima hari kemudian.

Minggu, 05 Oktober 2014

Film Bioskop Tentang UFO Yang Tidak Begitu Dikenang


Aku baru tahu ada film ini empatbelas tahun setelah 1994. Dan tidak ingat apakah ini pernah beredar di bioskop-bioskop di negeri ini atau tidak.

Bukan dari segi hiburannya. Aku menempatkan film ini dalam daftar pustaka utama-ku adalah karena informasi yang terkandung di dalamnya. Visualisasi tentang apa yang kira-kira terjadi di satu tempat terpencil, jauh dari mana-mana, di New Mexico, Amerika Serikat di pertengahan tahun 1947.