Jumat, 17 Juli 2009

Dari Buku Harian Pilot Amerika

“Petikan buku harian ini dicuplik dari buku harian pribadiku. Yang mulai kutulis sejak aku diangkat menjadi kopilot sebuah B-17E yang berangkat pukul 4 dini hari pada tanggal 11 Januari 1942 dari Lanud Angk. Darat McDill, Tampa, Florida. Ini berlangsung tepat sebulan dari wisudaku di Program Kadet Penerbangan, tanggal 12 Desember 1941, menyandang pangkat Letnan Dua Pilot di Korps Udara Angk. Darat. Sebelum akhirnya kemudian aku kembali ke Amerika, aku berkeliling dari Trinidad, Brasil, Sierra Leone, Pantai Gading, Nigeria, Sudan, Arabia, Pakistan, India, Srilanka, Jawa, Australia, Papua, New Caledonia, Fiji dan Hawaii.”

Letkol USAF (Purn.) Paul W. Eckley, Jr.

“Petikan2 berikut adalah liputan penerbanganku dari Kolombo, Srilanka ke Jawa sampai Lanud Singosari, Malang. Markas kami di Jawa sebelum dievakuasi ke Australia.

Sabtu, 14 Februari 1942

Fajar menyingsing dan dimana-mana disetiap ketinggian hanya awan.. Turun hingga 500 kaki untuk menyusur pantai. Hingga akhirnya mencapai approach point (Batavia) kemudian menuju tujuan yaitu Bandung. Mengikuti rel KA yang berliku mendaki gunung. Mendarat, setelah terbang selama 12 jam 40 menit. Disanalah aku merasa bahwa aku telah nyebur dalam peperangan. Kulihat sebuah pesawat (B-17) yang tercabik-cabik.. berkeping di bagian ekor. Smitty ditugaskan di pesawat itu. F.P. Smith dan dua temannya terjun ketika pesawat itu spin. Tidak terdengar lagi kabar tentang mereka. Mereka terjun sekitar 250 mil dari Bandung. Inilah kali pertama mengecap peperangan.. Memberikan cukup penalaran mengapa Smitty harus gugur. Yang pertama dari 41-I.

Catatan, 30 Desember 1999: Aku ingat kami terbang di atas Batavia kemudian menyusuri rel KA dalam ketinggian sedikit diatas pucuk pepohonan karena begitu sulit melihat rel di antara rimbunnya pohon. Peta yang kami pakai sebagai panduan pilot adalah peta tua. Ketika kami mendarat di Bandung, Aku ingat kami parkir dekat sebuah B-17E yang lain yang rusak berat di bagian ekor… eleator, rudder dll. Ketika kami masuk ke dalam gedung, Aku ingat melihat beberapa awak penerbangan Amerika tidur di ubin marmer. Kami diberi tahu bahwa yang pada tidur itu adalah awak dari B-17 yang kena tembak. Mereka bertemu Zero-zero Jepang dan ditembaki sampai spin tidak terkendali. Ketika itu tiga awak meloncat keluar, di perairan. Pilot akhirnya bisa mengendalikan pesawat sampai mendarat dengan selamat di Bandung. Untuk statemen Smitty adalah yang pertama dari 41-I.. Dari angkatan 41-I Kadet Penerbangan, beliaulah yang gugur pertama kali.

Siang kami lepas landas lagi menuju tujuan akhir dengan ditemani pesawat pandu. Di tengah jalan satu mesin batuk2 maka kami memutuskan mendarat di landasan alternatif (Djogjakarta) setelah terbang 2 jam 25 menit. Menginap semalam di sana.

Minggu, 15 Februari 1942

Seminggu lalu F.P. sudah di jatahkan di sini. Masih belum bisa melupakan. Aku harus bisa tegar kalau mau bertempur dengan baik. O, iya! Lepas landas lagi ke tujuan akhir (Malang), 1 jam 25 menit kemudian tiba di sana tepat sebelum gelap. Inilah pangkalan kami. Indah. Meski sudah kenyang di bombardir Jepang. Semua pesawat di kamuflase. Inginnya kirim telegram/transfer duit ke rumah… Aku tahu mereka yang di rumah pasti suka. Uang tidak banyak berarti bagiku. Akan bisa bikin senang orang rumah. Pergi ke kota untuk makan malam… Tempatnya OK. Ranjang bagus. Anda pasti kaget ketika melihat wanita yang aku tiduri tiap malam… Janda Belanda (‘dutch widow’ - guling). Seperti bantal tapi lebih panjang, bisa Anda peluk kuat-kuat sambil membayangkan yang tidak-tidak. Hampir mirip seperti duffel bag bentuknya. Aku sudah terbang sejauh 16.000 mil dari NYC.

Catatan 31 Desember 1999: F.P. adalah Smitty. Aku sedang mengingat sebuah kamar dimana kami ditempatkan bersama. Malang adalah nama kotanya dan Singosari adalah nama pangkalan di kota itu. Sebuah landasan rumput yang becek, sangat licin waktu basah, dan landasan itu pasti basah tiap jam 5 sore. Aku mendapat tempat tidur kasur dalam sebuah kamar yang semula diperuntukkan bagi perwira-perwira Belanda. Ada enam orang dalam satu kamar yang berlangit-langit amat tinggi tersebut. Tiap ranjang diselubungi kelambu. Hanya itu perabotannya. Ranjang, kelambu, dan ya Janda Belanda. Sarapan dan makan siang kami dilayani oleh jongos, tapi makan malam kami bebas boleh pergi ke kota. Kami makan besar di sebuah hotel besar di tengah kota sesudah kami nongkrong-nongkrong di cafĂ© pojok hotel tersebut sambil melihat keramaian orang pulang kerja pukul lima. Kami sapa orang yang berlalu-lalang naik sepeda dengan angkat gelas Heineken kami.”

Blog Baruku

Pas inyong bikin blog ini, pas hari Jumat 17 Juli 2009. JW Marriott dan Ritz Carlton di Mega Kuningan dibledhug orang. Tak akan mudah lupa, inyong nanti, ingat, pas bikin blog, pas bom mbledhug.

Kenapa baru sekarang bikin blog? Karena baru tau caranya. Tejo sudah bikin blog duluan, Ajib sudah, bikin buat Deltu (persatuan alumni SMA 2 Purwokerto taun 1987. Mereka menginspirasiku untuk latah juga bikin blog.

Kemudian, blog isi apa yaa? Kalo Tejo lebih bersipat literatur atau sastra, dengan doi menaruh karya-karya karangannya berupa cerpen ataupun esai, terus inyong apa ya enake? Nah kalo inyong mau bikin yang kaya Tejo, kemungkinan besar inyong ga bisa, karena inyong tidak pinter bikin dongeng tertulis yang penuh rona seperti yang dibikin Tejo. Mikir, mikir, mikir, yaah akhirnya inyong putuskan isi blog-ku campur aduk bae lah. Yang bersangkut-paut sama inyong punya interes terkuat, yaitu semangat semesta alam yang menyangkut pengelanaan seluruh jagad yang melibatkan benak, hati, dan cinta. Sesuai dengan yang inyong yakini, yaitu we are not alone. Kita tidak sendirian. Di jagad ini.