Fotografi phonecam makin kemari makin asoy saja. Sudah banyak pemakai handphone yang serius berekspresi lewat phonecamnya. Salah satu praktisi fotografi phonecam adalah dr. Santi dari Karawaci. Kami satu SMP tigapuluh tahun silam. Beberapa foto jepretan beliau aku tampilkan di sini.
ufologi, rock n'roll, sejarah, perfilman, pertelevisian, fotografi, sound-engineering, dan sastra, serta lawak-lawak
Selasa, 26 Mei 2015
Sabtu, 09 Mei 2015
DUKUN YANG PERNAH KUDATANGI
Siapa pernah ke dukun? Ha! Aku yakin bahwasanya sebagian besar orang yang pernah mendatangi dukun akan enggan merespon pertanyaan di atas. Kenapa? Malu. Malu ketahuan ketidak percayaan dirinya dengan minta tolong sama dukun. Kalau kau tanya padaku pernahkah aku pergi ke dukun? Walaupun dengan rasa malu akan kujawab jujur, pernah.
Ada beberapa dukun yang pernah kudatangi. Tetapi yang paling aku ingat adalah dua. Pertama adalah dukun sakti di kaki Gunung Merapi, bernama Mbah Karjo Srumbung. Kedua adalah dukun odong-odong bernama Sarno.
Solusi yang diberikan Mbah Karjo Srumbung tidak tanggung-tanggung. Meluluskan daku dari jebakan batman mata kulian Kalkulus Lanjut l di Jurusan Matematika FMIPA UGM. Dimana sebelum diewes-ewes oleh Mbah Karjo, aku sudah mengambil mata kuliah keparat tersebut sebanyak 6 kali. Dan maaf, aku bukan idiot, kegagalanku adalah karena kebiadaban dosen. Biar kusebut namanya yakni Prof. Dr. Soeparna Darmawidjaja. Namun biarlah, bagaimanapun lewat solusi dari Mbah Karjo, akhirnya Soeparna seperti terbukakan matanya dan bisa menilai lembar jawabku secara obyektif.
Duapuluh satu tahun setelah berkolaborasi dengan Mbah Kardjo yang sakti, aku kembali berurusan dengan dukun. Namun sayang, di kemudian hari, dukun bernama Sarno ini ketahuan belang bontengnya. Pendek kata Sarno adalah dukun palsu. Yang paling bikin aku geram ketika nama Sarno melintas di kepala adalah aku teringat disuruh minum air keruh olehnya. Dia bilang itu air berasal dari sumur Si Panji, Banyumas. Sumur sakti temuan Raden Joko Kaiman, bupati Banyumas pertama. Dengan ketahuannya Sarno itu dukun palsu, maka aku menyimpulkan air keruh yang kuminum adalah air sawah karena memang rumah Sarno dekat sekali dengan sawah.
***
Jumat, 08 Mei 2015
S O K A R A J A A N
Jaman aku kanak-kanak sampai sekitar maaa remaja, di Sokaraja, 9 km timur Purwokerto, yang terkenal akan gethuk dan srotonya, berderet pedagang lukisan di pinggiran jalan. Semua lukisan yang digelar adalah lukisan pemandangan. Jadi sudah semacam landmark untuk Sokaraja dimana kanan kiri jalan penuh lukisan pemandangan.
Lukisan-lukisan pemandangan di galeri jalanan ini diproduksi masal dengan bahan murah. Kanvasnya deklit atau bekas kantong terigu. Catnya cat becak dengan warna-warna tegas yang susah diajak kompromi.
Dan soal kualitas adalah masalah keberuntungan. Kau beruntung, kau dapat yang bagus. Kau tidak, kau dapat yang ngaco. Pendek kata tidak ada standar kualitas. Mau sukur, tak mau, tak masalah.
Ketika kedua lukisan yang fotonya kutampilkan di sini datang, aku nyeletuk: wah bagus ini, Sokarajaan. Rupanya pelukisnya sendiri yang mengantar. Dia sama sekali tidak hepi, karyanya kusebut Sokarajaan. Katanya: Owh bukan, pak. Ini lukisan pemandangan. Pertamanya aku agak heran kenapa dia tersinggung. Tapi setelah aku mencium bau cat minyak di lukisannya aku tersadar. Dia tidak mau dituding melukis dengan cat becak.
Kamis, 07 Mei 2015
Pasar Perairan
Di Kalimantan, banyak pasar di perairan. Pedagang lalu lalang mendayung jukung. Dan yang sedang menjaja mereka mengapung menepi berjualan. Aku takjub dengan situasi itu. Di Jawa, apalagi Jawa Tengah, apalagi di tengah-tengah pulau, tidak ada kutemui pasar di perairan.
Jelas aku takjub karena aku tidak bisa mengendalikan jukung. Aku tidak takut air karena aku bisa berrenang, tapi berkegiatan dengan jukung adalah total buta. Jadi aku mengagumi para penggiat pasar perairan yang begitu terampilnya beraktifitas niaga dengan jukungnya.
Hanya yang jadi kekhawatiranku adalah, apakah kali dimana mereka berpasar itu bersih dari tai ngambang atau tai hanyut? Maafkan aku jika begitu terus terang membicarakan tai. Masalahnya: dalam sejarahku berurusan dengan kali di Jawa, pasti ketemu mereka. Yaitu para tai ngambang dan tai hanyut.
***
SIAP GIAT KEMBALI DI BLOG
Karena pelbagai riuh rendah selama proses adaptasi kembali tinggal di tanah kelahiran, blog-ku jadi terlupakan. Untunglah kini situasiku membaik. Blog aku goyang lagi. Dan aku berharap, aku bisa lebih menyegarkan di saat ini dan ke depannya.
Mirip seperti yang sudah-sudah, goyangan blog ku tidak bergeser jauh. Tetap bawel untuk hal-hal konyol, slapstik, sit-com, dan teori konspirasi (menurut istilah orang-orang sinis).
Happy kinky..
***









