Siapa pernah ke dukun? Ha! Aku yakin bahwasanya sebagian besar orang yang pernah mendatangi dukun akan enggan merespon pertanyaan di atas. Kenapa? Malu. Malu ketahuan ketidak percayaan dirinya dengan minta tolong sama dukun. Kalau kau tanya padaku pernahkah aku pergi ke dukun? Walaupun dengan rasa malu akan kujawab jujur, pernah.
Ada beberapa dukun yang pernah kudatangi. Tetapi yang paling aku ingat adalah dua. Pertama adalah dukun sakti di kaki Gunung Merapi, bernama Mbah Karjo Srumbung. Kedua adalah dukun odong-odong bernama Sarno.
Solusi yang diberikan Mbah Karjo Srumbung tidak tanggung-tanggung. Meluluskan daku dari jebakan batman mata kulian Kalkulus Lanjut l di Jurusan Matematika FMIPA UGM. Dimana sebelum diewes-ewes oleh Mbah Karjo, aku sudah mengambil mata kuliah keparat tersebut sebanyak 6 kali. Dan maaf, aku bukan idiot, kegagalanku adalah karena kebiadaban dosen. Biar kusebut namanya yakni Prof. Dr. Soeparna Darmawidjaja. Namun biarlah, bagaimanapun lewat solusi dari Mbah Karjo, akhirnya Soeparna seperti terbukakan matanya dan bisa menilai lembar jawabku secara obyektif.
Duapuluh satu tahun setelah berkolaborasi dengan Mbah Kardjo yang sakti, aku kembali berurusan dengan dukun. Namun sayang, di kemudian hari, dukun bernama Sarno ini ketahuan belang bontengnya. Pendek kata Sarno adalah dukun palsu. Yang paling bikin aku geram ketika nama Sarno melintas di kepala adalah aku teringat disuruh minum air keruh olehnya. Dia bilang itu air berasal dari sumur Si Panji, Banyumas. Sumur sakti temuan Raden Joko Kaiman, bupati Banyumas pertama. Dengan ketahuannya Sarno itu dukun palsu, maka aku menyimpulkan air keruh yang kuminum adalah air sawah karena memang rumah Sarno dekat sekali dengan sawah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar