Kamis, 21 Maret 2013

Tulisan Bangun Tidur 001



RAJA TEGA

Aku tidur dari petang bablas tidak terkendali hingga dibangunkan telepon kira-kira jam 03.15 dini hari. Semenjak telepon itu aku jadi hilang kantuk dan lebih baik menonton televisi saja. Siapa tahu ada tontonan seksi, cewe2 dengan baju merangsang dan gaya yang menggoda menyiarkan quiz interaktif. Tapi, bukannya dapat tontonan seksi, aku terdampar di Metro TV. Acaranya adalah Metro 10 dan kali itu adalah tentang sepuluh negara terkorup di Asia. Indonesia nomor 1. Disusul Filipina. Kemudian Vietnam. Dan keempat Kambodja, kalau tidak salah.

Korupsi, dalam kriteria penyusunan ranking tersebut kelihatannya difokuskan untuk hal2 yang bakal mengganggu investasi bisnis. Tak apa, paling tidak sudah mewakili sebagian besar tanda2 tentang penyakit jelek ini. Hal2 itu adalah gratifikasi, suap, dan ongkos perlindungan yang harus dikeluarkan para pelaku bisnis yang sedang berkiprah di negara yang bersangkutan. Tanpa harus menjabarkan satu-persatu mengenai biaya-biaya siluman di atas, aku lebih suka merenung-renung kenapa bisa begitu.

Aku akan mulai dari letak geografis. Lihat, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Kambodja adalah ngumpul, betul? Memang begitu adanya. Lalu kalau letaknya yang bertetangga seperti itu, apakah karena karakter manusianya? Manusia yang satu rumpun yang kemudian memiliki perilaku yang kurang lebih sama? Perilaku raja tega yang tega memungut uang tanpa harus bekerja keras? Aku punya jawaban, tidak.

Tidak. Bukan karena manusianya secara kalbu sudah membawa gen nyolong, nilep, dan minta sogok. Dan jelas tidak ada hubungannya dengan rumpun Asia Timur bagian tenggara. Karakter jauh lebih kuat dari pada perilaku. Perilaku boleh mirip namun karakter adalah inti kemanusiaan. Manusia Indonesia yang jelas sangat berragam, berbeda karakternya dengan Filipinos, dengan orang-orang dari Indocina. Dan harap ingat, perilaku adalah buah dari suri tauladan. Untuk terbit perilaku, harus ada guru. Atau paling tidak mereka yang memberi contoh.

Sebelum Jepang yang dengan kerakusan luar biasa menginvasi Asia Timur (Vietnam, Filipina, Kamboja, dll), semuanya berjalan baik2 saja di Hindia Belanda. Yah meski waktu itu kita dijajah abis oleh Belanda, tapi orang kita secara umum masih hidup seperti manusia. Orang kita bertani dengan wajar. Menanam tebu dengan bersemangat. Membangun ribuan kilometer rel KA dengan antusias. Memelihara perkebunan kayu keras dengan disiplin. Mempelajari berbagai macam pertukangan dengan rajin dan proporsional.

Ya memang ada saja perilaku jelek seperti maling, rampok, nyatut dan lain2 tetapi masih dalam persentase yang wajar dalam masyarakat. Dan untuk maling resikonya adalah bui. Yang jelas ketika itu belum musim maling digebuki masa sampai lebih dari tewas. Jika ada maling ditangkap di suatu desa terpencil, maka ia akan dibawa oleh lurah, berjalan kaki berdua sampai ke kota untuk diproses hukum. Maling itu diikat kuat tangan ke badannya dan tali ujungnya akan dipegang oleh lurah yang menggelandangnya di sepanjang jalan ke kota. Apabila lurah berasa hendak kencing atau berak di selokan pinggir jalan, maka tali akan diikatkan ke pohon. Sementara lurah menunaikan hajatnya, maling boleh jongkok menunggu.

Jepang adalah bangsa yang agresif. Di dalam kalbu mereka ada martabat yang susah diusik. Apabila martabat tersebut cela, mereka memilih mati daripada hidup menanggung malu. Demi martabat, mereka sangat galak. Dan karena semua Jepang begitu maka mereka mencari korban yang lain. Korbannya tentu mereka2 yang tidak galak seperti mereka. Korban tersebut adalah tumbal. Yang akan memberi segala macam sumber daya guna mendukung kegiatan mereka membangun martabat. Cilakanya kegiatan tersebut adalah perang besar. Terlalu besar untuk ditanggung orang2 Jepang itu sendiri. Bagaimana tidak? Mereka cari gara2 dengan Amerika Serikat. Sialnya, kita yang di Asia Tenggara sudah mereka siapkan sebagai tumbal.

Jepang sudah merencanakan sejak lama. Buktinya, sejak tahun 1920an di Hindia Belanda banyak sekali Jepang datang. Kebanyakan buka toko. Atau jadi lonte. Di Bandung ada toko Ciyoda yang terkenal. Di Kembang Jepun, Surabaya, adalah sarang lonte Jepang. Hampir semuanya dari mereka adalah intel. Yang memberikan segala macam informasi strategis ke tanah air mereka. Dan kemudian informasi ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh militer. Terbukti, ketika infanteri Jepang mengalahkan pertahanan KNIL di Ciater, mereka sungguh2 mengejutkan karena KNIL tidak mengira, unit2 pelopor musuh menikam dari jalan2 setapak sepanjang perkebunan teh.

Disamping mengumpulkan informasi, intel2 tersebut menyebarkan propaganda. Bahwa mereka adalah Saudara Tua. Yang akan membebaskan masyarakat pribumi dari penjajahan orang Eropa. Nipon Pemimpin Asia, Nipon Pelindung Asia, Nipon Cahaya Asia.

Ketika Jepang datang, dimulailah kursus perilaku binatang tingkat lanjut selama tiga setengah tahun. Tenggang waktu yang cukup untuk suatu proses belajar mengajar yang akan menjadikan para bintang kelas lulus dengan predikat istimewa untuk teori serta praktek. Di minggu2 pertama jelas mereka dielu-elukan. Saudara tua kate, yang datang dalam keadaan kurus mata cekung dan berwarna kehijauan. Namun keadaan fisik ini segera berubah setelah tiga minggu mereka bercokol di wilayah Saudara Muda.

Di Malang, ada anak Jawa berusia sekitar 13 tahun. Dengan memakai pakaian pandu dia berdiri dengan sikap sempurna memberi hormat  kepada kroco Jepang yang sedang berjaga di pos. Ini adalah bentuk penghormatan dari anak itu sebagai rasa terima kasih atas pembebasan dari kolonial. Rupanya kroco Jepang itu tidak mengerti. Dia berseru-seru menyuruhnya pergi, ”Khurraah! Khurraaah!” Si anak tidak mengerti, tetap saja berdiri menghormat. Si Jepang tidak sabar, dihampirinya anak itu dan ditempilingnya sekuat tenaga, hingga anak itu terjengkang jatuh ke tanah. Orang2 di sekitar situ datang menolong lalu membawanya pergi.

Di Pekalongan, bakul bebek sedang memikul keranjang full bebek melewati pos penjagaan. Karena keadaannya yang memikul, dia mengalami kesulitan untuk membungkuk menghormat. Kroco2 Jepang di pos itu marah. Si bakul distop lalu ditempiling-ditendangi sampai terguling-guling dan keranjang nya pun berantakan. Kontan bebek2 lepas berlarian kesana-kemari. Melihat demikian serdadu2 Jepang tertawa terbahak-bahak.

Ada sekian ratus serdadu Inggris dan Australia yang tidak mau meletakkan senjata dan menyerah pada Jepang. Mereka pergi ke gunung2 merencanakan berperang gerilya. Untuk ini Jepang mengerahkan operasi pembersihan habis2an. Satu demi satu mereka tertangkap. Sepasang2 dari serdadu2 sekutu pemberani yang ketangkep ini dimasukkan ke dalam keranjang bambu bulat yang biasa untuk mengangkut babi dari kandang ke penjagalan. Keranjang2 itu dimuatkan ke atas truk, dipanaskan di bawah terik matahari tanpa makan minum, kemudian sorenya dibawa ke pelabuhan untuk selanjutnya dibawa perahu agak ke tengah laut lalu kemudian keranjang2 itu diceburkan. Banyak yang ketika diceburkan, penghuni keranjang2 itu masih dalam keadaan hidup.

Orang2 kita melongo melihat kebengisan2 tersebut. Hal yang orang kita tidak pernah lihat sebelumnya. Pelan tapi pasti, kebengisan, kekejian, jadi tertanam. Dari contoh, hal itu kelihatan boleh dan berlaku. Tanpa harus membicarakan sebab-musabab.

Beras mereka bawa semua. Daging juga. Dua minggu sekali, boleh bagi yang ada uang, untuk beli tulangan. Untung saja mereka tidak suka daging kambing. Sehingga orang ada kebagian daging, meskipun daging kambing saja. Propaganda konyol mereka sebarkan. Seperti misalnya: Penelitian ahli2 Saudara Tua mengatakan bahwa kulit pisang jauh lebih bergizi daripada pisang itu sendiri. Maka dianjurkan bagi saudara muda untuk banyak2 makan kulit pisang. Sedang pisangnya mereka bawa. Ada lagi: Cangkang bekicot lebih bergizi daripada bekicot itu sendiri maka orang ramai2 berburu bekicot. Dagingnya mereka ambil untuk ”dibuang” ke dalam keranjang Jepang, dan mereka ambil cangkangnya untuk dimakan.

Maling tertangkap akan di telanjangi di lapangan, lalu digebuki sampai mati. Jika tangan dan kaki mereka jadi pegal linu karena menggebuk, maka masyarakat dipanggil untuk turut serta menggebuki dan jangan berhenti sebelum mati. Wacananya adalah, jika tidak mati sekarang maka esok ketika lepas, giliran harta kalian dicurinya.

Komandan unit militer berarti juga penguasa daerah seperti layaknya daimyo. Sabdanya adalah hukum, dengan wacana demi kepentingan militer Dai Nippon.

Untuk apa antri? Berebut saja, lebih baik! Yang dibagikan segera habis. Dan katanya, berikutnya tidak akan tiba sebelum yang dibagi sekarang habis. Anjing, bukan?

Jika Jepang memerlukan kantor atau tempat, mereka tidak membangun. Mereka tinggal memilih rumah mana yang mereka suka, dan mengusir penghuninya. Tanpa perduli penghuninya barusan beranak malam sebelumnya.

Bagi para pegawai dinas-dinas bentukan pemerintahan pendudukan Jepang, dianjurkan untuk merekrut sanak-saudaranya apabila memerlukan tambahan tenaga. Hal ini untuk memudahkan kontrol Kempeitai.

Dalam masa sulit, yang tumbuh subur adalah pasar gelap untuk berbagai komoditi yang harusnya diserahkan untuk keperluan Dai Nippon. Disinilah berbagai cincay mulai lahir. Kempeitai bukannya tidak tahu hal ini, namun malahan seperti mengipasinya. Karena Kempeitai punya strategi yang kerap memerlukan jaringan perdagangan gelap ini.

Akhirnya adalah Heiho. Semua petinggi militer Indonesia angkatan ’45 adalah lewat pendidikan Heiho. Almarhum Suharto? Jelas! Beliau adalah Heiho tulen.. Jika perilaku militer Jepang pendudukan seperti yang kudongengkan di atas, apakah institusi pendidikan kemiliteran mereka  membentuk seperti itu? Embuh! Tapi yang jelas, suri tauladan serta doktrin apalagi yang namanya doktrin pendidikan militer, kuat sekali dalam membentuk perilaku orang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar