RAJA
TEGA
Aku
tidur dari petang bablas tidak terkendali hingga dibangunkan telepon kira-kira
jam 03.15 dini hari. Semenjak telepon itu aku jadi hilang kantuk dan lebih baik
menonton televisi saja. Siapa tahu ada tontonan seksi, cewe2 dengan baju
merangsang dan gaya yang menggoda menyiarkan quiz interaktif. Tapi, bukannya
dapat tontonan seksi, aku terdampar di Metro TV. Acaranya adalah Metro 10 dan
kali itu adalah tentang sepuluh negara terkorup di Asia. Indonesia nomor 1.
Disusul Filipina. Kemudian Vietnam. Dan keempat Kambodja, kalau tidak salah.
Korupsi,
dalam kriteria penyusunan ranking tersebut kelihatannya difokuskan untuk hal2
yang bakal mengganggu investasi bisnis. Tak apa, paling tidak sudah mewakili
sebagian besar tanda2 tentang penyakit jelek ini. Hal2 itu adalah gratifikasi,
suap, dan ongkos perlindungan yang harus dikeluarkan para pelaku bisnis yang
sedang berkiprah di negara yang bersangkutan. Tanpa harus menjabarkan
satu-persatu mengenai biaya-biaya siluman di atas, aku lebih suka merenung-renung
kenapa bisa begitu.
Aku
akan mulai dari letak geografis. Lihat, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan
Kambodja adalah ngumpul, betul? Memang begitu adanya. Lalu kalau letaknya yang
bertetangga seperti itu, apakah karena karakter manusianya? Manusia yang satu
rumpun yang kemudian memiliki perilaku yang kurang lebih sama? Perilaku raja
tega yang tega memungut uang tanpa harus bekerja keras? Aku punya jawaban,
tidak.
Tidak.
Bukan karena manusianya secara kalbu sudah membawa gen nyolong, nilep, dan
minta sogok. Dan jelas tidak ada hubungannya dengan rumpun Asia Timur bagian
tenggara. Karakter jauh lebih kuat dari pada perilaku. Perilaku boleh mirip
namun karakter adalah inti kemanusiaan. Manusia Indonesia yang jelas sangat
berragam, berbeda karakternya dengan Filipinos, dengan orang-orang dari
Indocina. Dan harap ingat, perilaku adalah buah dari suri tauladan. Untuk
terbit perilaku, harus ada guru. Atau paling tidak mereka yang memberi contoh.
Sebelum
Jepang yang dengan kerakusan luar biasa menginvasi Asia Timur (Vietnam,
Filipina, Kamboja, dll), semuanya berjalan baik2 saja di Hindia Belanda. Yah
meski waktu itu kita dijajah abis oleh Belanda, tapi orang kita secara umum
masih hidup seperti manusia. Orang kita bertani dengan wajar. Menanam tebu
dengan bersemangat. Membangun ribuan kilometer rel KA dengan antusias.
Memelihara perkebunan kayu keras dengan disiplin. Mempelajari berbagai macam
pertukangan dengan rajin dan proporsional.
Ya
memang ada saja perilaku jelek seperti maling, rampok, nyatut dan lain2 tetapi
masih dalam persentase yang wajar dalam masyarakat. Dan untuk maling resikonya
adalah bui. Yang jelas ketika itu belum musim maling digebuki masa sampai lebih
dari tewas. Jika ada maling ditangkap di suatu desa terpencil, maka ia akan
dibawa oleh lurah, berjalan kaki berdua sampai ke kota untuk diproses hukum.
Maling itu diikat kuat tangan ke badannya dan tali ujungnya akan dipegang oleh
lurah yang menggelandangnya di sepanjang jalan ke kota. Apabila lurah berasa
hendak kencing atau berak di selokan pinggir jalan, maka tali akan diikatkan ke
pohon. Sementara lurah menunaikan hajatnya, maling boleh jongkok menunggu.
Jepang
adalah bangsa yang agresif. Di dalam kalbu mereka ada martabat yang susah
diusik. Apabila martabat tersebut cela, mereka memilih mati daripada hidup
menanggung malu. Demi martabat, mereka sangat galak. Dan karena semua Jepang
begitu maka mereka mencari korban yang lain. Korbannya tentu mereka2 yang tidak
galak seperti mereka. Korban tersebut adalah tumbal. Yang akan memberi segala
macam sumber daya guna mendukung kegiatan mereka membangun martabat. Cilakanya
kegiatan tersebut adalah perang besar. Terlalu besar untuk ditanggung orang2
Jepang itu sendiri. Bagaimana tidak? Mereka cari gara2 dengan Amerika Serikat.
Sialnya, kita yang di Asia Tenggara sudah mereka siapkan sebagai tumbal.
Jepang
sudah merencanakan sejak lama. Buktinya, sejak tahun 1920an di Hindia Belanda
banyak sekali Jepang datang. Kebanyakan buka toko. Atau jadi lonte. Di Bandung
ada toko Ciyoda yang terkenal. Di Kembang Jepun, Surabaya, adalah sarang lonte
Jepang. Hampir semuanya dari mereka adalah intel. Yang memberikan segala macam
informasi strategis ke tanah air mereka. Dan kemudian informasi ini
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh militer. Terbukti, ketika infanteri Jepang
mengalahkan pertahanan KNIL di Ciater, mereka sungguh2 mengejutkan karena KNIL
tidak mengira, unit2 pelopor musuh menikam dari jalan2 setapak sepanjang
perkebunan teh.
Disamping
mengumpulkan informasi, intel2 tersebut menyebarkan propaganda. Bahwa mereka
adalah Saudara Tua. Yang akan membebaskan masyarakat pribumi dari penjajahan
orang Eropa. Nipon Pemimpin Asia, Nipon Pelindung Asia, Nipon Cahaya Asia.
Ketika
Jepang datang, dimulailah kursus perilaku binatang tingkat lanjut selama tiga
setengah tahun. Tenggang waktu yang cukup untuk suatu proses belajar mengajar
yang akan menjadikan para bintang kelas lulus dengan predikat istimewa untuk
teori serta praktek. Di minggu2 pertama jelas mereka dielu-elukan. Saudara tua
kate, yang datang dalam keadaan kurus mata cekung dan berwarna kehijauan. Namun
keadaan fisik ini segera berubah setelah tiga minggu mereka bercokol di wilayah
Saudara Muda.
Di
Malang, ada anak Jawa berusia sekitar 13 tahun. Dengan memakai pakaian pandu
dia berdiri dengan sikap sempurna memberi hormat kepada kroco Jepang yang sedang berjaga di
pos. Ini adalah bentuk penghormatan dari anak itu sebagai rasa terima kasih
atas pembebasan dari kolonial. Rupanya kroco Jepang itu tidak mengerti. Dia
berseru-seru menyuruhnya pergi, ”Khurraah! Khurraaah!” Si anak tidak mengerti,
tetap saja berdiri menghormat. Si Jepang tidak sabar, dihampirinya anak itu dan
ditempilingnya sekuat tenaga, hingga anak itu terjengkang jatuh ke tanah.
Orang2 di sekitar situ datang menolong lalu membawanya pergi.
Di
Pekalongan, bakul bebek sedang memikul keranjang full bebek melewati pos
penjagaan. Karena keadaannya yang memikul, dia mengalami kesulitan untuk
membungkuk menghormat. Kroco2 Jepang di pos itu marah. Si bakul distop lalu
ditempiling-ditendangi sampai terguling-guling dan keranjang nya pun
berantakan. Kontan bebek2 lepas berlarian kesana-kemari. Melihat demikian
serdadu2 Jepang tertawa terbahak-bahak.
Ada
sekian ratus serdadu Inggris dan Australia yang tidak mau meletakkan senjata
dan menyerah pada Jepang. Mereka pergi ke gunung2 merencanakan berperang
gerilya. Untuk ini Jepang mengerahkan operasi pembersihan habis2an. Satu demi
satu mereka tertangkap. Sepasang2 dari serdadu2 sekutu pemberani yang ketangkep
ini dimasukkan ke dalam keranjang bambu bulat yang biasa untuk mengangkut babi
dari kandang ke penjagalan. Keranjang2 itu dimuatkan ke atas truk, dipanaskan
di bawah terik matahari tanpa makan minum, kemudian sorenya dibawa ke pelabuhan
untuk selanjutnya dibawa perahu agak ke tengah laut lalu kemudian keranjang2
itu diceburkan. Banyak yang ketika diceburkan, penghuni keranjang2 itu masih
dalam keadaan hidup.
Orang2
kita melongo melihat kebengisan2 tersebut. Hal yang orang kita tidak pernah
lihat sebelumnya. Pelan tapi pasti, kebengisan, kekejian, jadi tertanam. Dari
contoh, hal itu kelihatan boleh dan berlaku. Tanpa harus membicarakan
sebab-musabab.
Beras
mereka bawa semua. Daging juga. Dua minggu sekali, boleh bagi yang ada uang,
untuk beli tulangan. Untung saja mereka tidak suka daging kambing. Sehingga
orang ada kebagian daging, meskipun daging kambing saja. Propaganda konyol
mereka sebarkan. Seperti misalnya: Penelitian ahli2 Saudara Tua mengatakan
bahwa kulit pisang jauh lebih bergizi daripada pisang itu sendiri. Maka
dianjurkan bagi saudara muda untuk banyak2 makan kulit pisang. Sedang pisangnya
mereka bawa. Ada lagi: Cangkang bekicot lebih bergizi daripada bekicot itu
sendiri maka orang ramai2 berburu bekicot. Dagingnya mereka ambil untuk
”dibuang” ke dalam keranjang Jepang, dan mereka ambil cangkangnya untuk
dimakan.
Maling
tertangkap akan di telanjangi di lapangan, lalu digebuki sampai mati. Jika
tangan dan kaki mereka jadi pegal linu karena menggebuk, maka masyarakat
dipanggil untuk turut serta menggebuki dan jangan berhenti sebelum mati.
Wacananya adalah, jika tidak mati sekarang maka esok ketika lepas, giliran
harta kalian dicurinya.
Komandan
unit militer berarti juga penguasa daerah seperti layaknya daimyo. Sabdanya
adalah hukum, dengan wacana demi kepentingan militer Dai Nippon.
Untuk
apa antri? Berebut saja, lebih baik! Yang dibagikan segera habis. Dan katanya,
berikutnya tidak akan tiba sebelum yang dibagi sekarang habis. Anjing, bukan?
Jika
Jepang memerlukan kantor atau tempat, mereka tidak membangun. Mereka tinggal
memilih rumah mana yang mereka suka, dan mengusir penghuninya. Tanpa perduli
penghuninya barusan beranak malam sebelumnya.
Bagi
para pegawai dinas-dinas bentukan pemerintahan pendudukan Jepang, dianjurkan
untuk merekrut sanak-saudaranya apabila memerlukan tambahan tenaga. Hal ini untuk
memudahkan kontrol Kempeitai.
Dalam
masa sulit, yang tumbuh subur adalah pasar gelap untuk berbagai komoditi yang
harusnya diserahkan untuk keperluan Dai Nippon. Disinilah berbagai cincay mulai
lahir. Kempeitai bukannya tidak tahu hal ini, namun malahan seperti
mengipasinya. Karena Kempeitai punya strategi yang kerap memerlukan jaringan
perdagangan gelap ini.
Akhirnya
adalah Heiho. Semua petinggi militer Indonesia angkatan ’45 adalah lewat
pendidikan Heiho. Almarhum Suharto? Jelas! Beliau adalah Heiho tulen.. Jika
perilaku militer Jepang pendudukan seperti yang kudongengkan di atas, apakah
institusi pendidikan kemiliteran mereka
membentuk seperti itu? Embuh! Tapi yang jelas, suri tauladan serta
doktrin apalagi yang namanya doktrin pendidikan militer, kuat sekali dalam
membentuk perilaku orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar